asslm. wr. wb

asslm. wr. wb

andre scabra world

Jumat, 26 November 2010

ciri ciri ikan sehat dan ikan sakit secara internal dan eksternal

Definisi penyakit dalam patologi ikan

Penyakit didefinisikan sebagai suatu keadaan fisik, morfologi, dan atau fungsi yang mengalami perubahan dari kondisi normal karena beberapa penyebab, dan terbagi atas dua kelompok yaitu penyebab dari dalam (internal) dan luar (eksternal). Penyakit ikan umumnya adalah eksternal.

Penyakit internal : genetik, sekresi internal, imunodefisiensi, saraf dan metabolik.

Penyakit eksternal :

1). Non patogen

  • Penyakit lingkungan :suhu dan kualitas air lainnya (pH, kelarutan gas, zat beracun).
  • Penyakit nutrisi : kekurangan nutrisi, gejala keracunan bahan pakan.

2). Patogen; bersifat parasit dan terdiri atas empat kelompok yaitu :

  • Penyakit viral
  • Penyakit jamur
  • Penyakit bakterial

Ikan Sehat Secara Eksternal

  • Gerakannya Aktif. Secara umum, ikan sehat secara penampakan luar ( eksternal ) selalu bergerak aktif. Ikan memiliki sifat reotaksis positif dan negative. Ia selalu bergerak aktif baik itu melalwan atau searah arus perairan.
  • Nafsu makan tinggi. Ikan sehat selalu memiliki nafsu makan yang tinggi. Dengan begitu, asupan nilai gizi yang diperlukan tubuh ikan untuk proses kehidupannya bisa terpenuhi secara maksimal. Pertumbuhan akan baik, reproduksi, pencernaan, serta segala system yang bekera pada fungsi kehidup ikan akan berlangsung dengan baik.

  • Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk melihat suatu ikan, apakah dalam keadaan sakit atau tidak.
  • Warna kulit yang cerah, tidak berselaput ataupun mengeluarkan lendir yang berlebihan. Warna kulit yang mengkilap/hitam menandakan kondisi ikan yang tidak sehat. Garis hitam vertical/stress bar yang sangat menyolok/tegas menandakan ikan dalam kondisi stress yang berat. Jumlah garis ini berbeda-beda menurut varian ikan. Biasanya berjumlah antara 7-18 bar. Stress bar ini tidak menentukan sakit tidaknya seekor ikan, tetapi sebagai parameter kondisi ikan akibat kaget, atau kondisi lingkungan yang tidak cocok bagi ikan. Banyak jenis ikan yang menunjukkan stress-bar nya dengan jelas.
  • Sisik pada ikan yang bersih dan tidak terkelupas, tidak berbintik putih dan berlendir terlalu banyak. Sirip ikan haruslah terlihat bersih dan lengkap. Sirip yang sobek, rusak, berjamur menandakan ikan tidak sehat. Biasanya pada sirip ikan sering terserang fin rot. Sirip yang tidak cacat dan seimbang akan membuat bentuk ikan indah dipandang.
  • Warna mata yang bening, tidak berselaput ataupun berbintik putih. Bola mata yang tidak terlalu mencolok keluar seperti ban radial. Mata demikian disebut pop eye yang disebabkan kondisi air yang jelek, dan ikan terjangkit intestinal bakteri. Ukuran mata yang terlalu besar pada ikan yang berukuran kecil menandakan ikan tersebut terhambat pertumbuhannya atau biasa disebut bantet/ kontet. Selain itu mata yang hitam dapat diakibatkan oleh penyakit internal dan terlalu lama terkena kontaminasi obat-obatan dalam jangka lama.
  • Bentuk tubuh ikan yang ideal, tidak kurus yang nampak dari ketebalan dahi/ jidat. ikan yang tidak cacat fisik, biasanya terlihat dari depan/ muka dimana sisi kiri dan kanan terlihat sama. Mulut ataupun bagian tubuh lainnya tidak ada yang lebih ke kiri/ ke kanan.
  • Cara bernafas yang berirama teratur, dimana kedua insang membuka dan menutup bersamaan, tanpa ada yang lebih besar membukaya ataupun bernafas hanya dengan satu insang. Biasanya ikan yang bernafas dengan satu insang terjangkit Gill Fluke Dactylogyrus atau kutu insang. Tutup insang rata menutupi insang, tidak pendek dan tidak menganga terbuka. Juga harus diperhatikan nafas yang snagat cepat, yang dapat disebabkan oleh kekurangan oksigen naum dalam jangka panjang akan merusak fungsi insang.
  • Ikan yang sehat umumnya tidak takut terhadap manusia yang melihatnya. ikan yang baik dan sehat biasanya akan segera mendekat dengan cepat, mengira akan diberi makan. Selain itu ikan yang sehat umumnya tidak menyendiri, tertapi berbaur dengan teman-temannya.
  • Umumnya ikan yang sehat, gaya berenangnya tenang, tidak tersendat-sendat. ikan yang suka menggesekkan bagian tubuhnya ke alat-alat atau benda sekitarnya, umumnya terserang parasit. Hal ini mungkin karena rasa gatal yang ditimbulkan akibat gigitan kutu ataupun jamur/ bakteri pada kulit maupun insang. ikan yang sehat umumnya berenang dengan tenang, dasi/pectoral fin – sirip depan bawah perut diturunkan sehingga terlihat gagah pada saat berenang.
  • Ciri CIRI ikan yang sehat
    • Organon-visus (mata) jernih dan cerah
    • Kulit sedikit berlendir
    • Gerak refleks baik
    • Gerakan lincah
    • Warna ikan cerah
    • Bagian ventral (perut) tubuh
    • mendatar
    • Bagian cauda (ekor) horizontal atau terangkat keatas
    • Pinna caudalis mengembang seperti kipas
Ikan Sehat Secara Internal
  • Insang berwarna merah hati . dapat menjalankan fungsinya untuk respirasi. Menyerap oksigen dan mengeluarkan carbondioksida.
  • Gelembung renang berisi udara, bersifat netral. Dgn begitu, ikan bisa tidur di dalam air tanpa tenggelam ke dasar periran atau mengambang ke permukaan.

Ikan Sakit Secara Eksternal

  • Warna Tubuh Menjadi gelap, nafsu makan berkurang, nafas tersengal-sengal, sering berada pada permukaan air. Gejala ini biasanya timbul akibat ikan kekurangan oksigen.
  • Ikan lebih sering menyendiri di sudut kolam, geraknya kurang lincah, sebelum muncul tanda merah tau bitik putih pada kulitnya ikan menggesek-gesekkan badannya ke dinding kolam. Itu di akibatkan adanya kutu atau jamur pada tubuh ikan serta nafsu makan berkurang. Seandainya ada ikan dengan ciri-ciri tersebut sebaiknya ikan di pisahkan dengan yang lainnya (karantina) sambil di beri pengobatan dan berikan juga heater.
  • Ciri ikan yang sakit, biasanya dia menyendiri dan melipat ekor. Tapi bukan berarti itu saja, ikan yang sakit juga bisa dilihat dari penampilan fisik tubuh mereka. Misalnya ikan yang sakit ulcer/ borok, masih berenang -renang dengan aktif dan makannya juga banyak.
  • Badan ikan berjamur, jambul rusak/ bolong.
  • Badan ikan kena parasit/kutu, white spot.
  • Malas, tidak mau makan. Keseimbangan terganggu, menggantung dipermukaan air, menggosok-gosokkan tubuhnya di benda lain. Cirri-ciri penyakit ini biasanya karena ikan tersebut sedang stress.
  • bintik-bintik merah pada seluruh permukaan tubuh dan sirip, timbul luka pada permukaan tubuh. Cirri-ciri ini muncul pada ikan yang tersetang Carp Erithrodermatitis.
  • Pembengkakan kulit, penonjolan pada kulit di pangkal ekor. Merupakan gejala dari carp pox.
  • Berenang secara tidak normal, menggelepar mnggelepar kemudian diam di dasar perairan, menggantung di permukaan air.
  • Ikan berwarna gelap, satu matanya rusak, yaitu cirri-ciri dari viral haemorhagic septicaemia.
Ikan Sakit Secara Internal
  • Respirasi tidak seimbang, produksi lendir berlebihan. Penyakit ni dikarenakan oleh suhu yang tidak seuai dengan tubuh ikan.
  • Darah berwarna abu-abu kecoklatan ( terbentuk meta-haemoglobin ), tidak bisa mengikat O2 ( pada ikan ar tawar ), penyaringan nitrit dilakukan oleh CL- dalam pertukaran ion dengan bicarbonate ( HCO3- ).
  • Terbentuk lapisan coklat pada insang karena adanya necrosis pada lapisan epitheliumnyaakibat protein dalam keadaan masam.
  • Karena keracunan zat besi, abonemen ikan bewarna kecoklatan.
  • Kekurangan asam lemak pada nutrisi ikan menyebabkan terjadinya degenerasi lemak pada hati.
  • Kekurangan vitamin B-2 ( Riboflavin ) menyebabkan kataraks, photopobia, pendarahan pada nostril dan overcullum.
  • Ikan yang terkena infectious dropsy, memiliki cirri-ciri bagian perut menggelembung, berisi cairan berwarna kuning. Insang meradang. Terjadi pendarahan pada organ tubuh.
  • Ikan yang terkena collumnaris diseases, berciri-ciri terdapat bercak putih pada sel integument. Lamella insang telah dimakan oleh bakteri shg pernafasan ikan menjadi terganggu.
  • Akibat serangan virus, terjadi pembengkakan ( inflammatory ) pada jaringan, pertumbuhan jaringan menjadi tidak normal.
  • Spring viremia of carp menyebabkan cedera pada ginjal, hati, dan gelembung renang.
  • Limphocistis ( pembengkakan sel kulit ikan ) menyebabkan luka yang kronis ( tumor otak ) berwarna putih atau kemerahan, kemudian menjadi haemorhagic.
  • Infectious haemopoietic necrosis menyebabkan necrosis local pada ginjal, lmpha dan hati. Selain itu, adanya pop eye, akumulasi cairan pada rongga tubuh, usus membengkak, insang menjadi pucat, bintik-bintik haemorhagic pada mulut, dasar sirip dan organ dalam.

etika tertawa

1. Tidak memperbanyak tertawa
Janganlah kalian memperbanyak tertawa karena memperbanyak tertawa bisa mematikan hati". [HR. At-Tirmidzy (2305), Ibnu Majah (4193)

2. Tidak berlebih-lebihan dalam tertawa dan terbahak-bahak dengan suara yang keras.
Dari 'Aisyah Radhiallaahu anha: "Belum pernah aku melihat Rasulullah tertawa terbahak-bahak hingga kelihatan anak lidah beliau. Namun beliau hanya tersenyum." (HR Bukhari dan Muslim)

3. Tidak tertawa untuk mengejek, mengolok, mencela dan sebagainya
Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadiwanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) danjanganlah kamu mnecela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiap yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. (Al-Hujurat: 11)

4. Tidak tertawa karena suatu kebohongan.
Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah. (Hadits Hasan HR. Ahmad)

Kamis, 06 Mei 2010

motilitas dan viabilitas sperma ikan

Salah satu permasalahan fertilisasi pada budidaya ikan air tawar adalah rendahnya tingkat fertilisasi dari spermatozoa di dalam air. Hal ini mengakibatkan banyaknya sel telur yang tidak terbuahi secara sempurna (Masrizal dan Efrizal, 1997). Dalam satu siklus reproduksi ikan dapat dihasilkan sel telur sampai jutaan per ekor, tetapi yang terbuahi hanya mencapai 5% dari total.
Permasalahan lain adalah kurangnya ketersediaan cairan spermatozoa pada waktu pembuahan buatan. Rendahnya pembuahan spermatozoa dalam fertilisasi buatan ini juga disebabkan oleh aktivitas spermatozoa yang relatif singkat (Nurman, 1998). Hal tersebut dapat disebabkan oleh singkatnya waktu viabilitas dan motilitas dari spermatozoa, sehingga kemampuan spermatozoa untuk menembus lubang mikropil pada sel telur rendah. Volume cairan spermatozoa dapat ditingkatkan dengan rangsangan hormonal, sedangkan menurut Masrizal dan Efrizal, (1997) volume cairan spermatozoa dapat juga dilakukan dengan pengenceran melalui penambahan larutan fisiologis.
Effendy (1997) menyatakan bahwa kemampuan spermatozoa hidup secara normal setelah keluar dari testis hanya berkisar antara 1-2 menit. Menurut Suquest (1994) dalam Cosson et al, (1999) bahwa di alam durasi motilitas terjadi dalam periode yang sangat pendek pada ikan air tawar. Billard dalam Jamieson (1990) menyatakan bahwa motilitas spermatozoa ikan dibatasi pada periode detik dan menit karena adanya osmotic injury.
Fertilisasi dapat didukung oleh kualitas spermatozoa yang baik. Untuk mengetahui tingkat ferilisasi yang lebih tinggi, perlu dicari larutan fisiologis yang dapat menambah daya motilitas dan viabilitas spermatozoa. Menurut Rustidja (1985) penggunaan larutan fisiologis yang mengandung NaCl dan urea dapat mempertahankan daya hidup spermatozoa antara 20-25 menit.
Pada penelitian ini dipilih larutan fruktosa sebagai bahan pengencer untuk spermatozoa karena plasma semen secara biokimia mengandung berbagai persenyawaan organik spesifik yang salah satunya adalah fruktosa. Menurut Marawali dkk (2001) fruktosa adalah substrat energi utama di dalam plasma semen yang telah diproduksi kelenjar vesikularis. Selain itu fruktosa merupakan turunan karbohidrat yang dapat dijadikan sumber energi untuk mendukung pergerakan (motilitas) dan ketahanan spermatozoa (Teolihere, 1981). Berdasarkan hal tersebut penelitian ini memfokuskan pada pengaruh pemberian larutan fruktosa di luar plasma semen untuk meningkatkan waktu motilitas dan viabilitas spermatozoa ikan mas (Cyprinus carpio L) sebagai ikan konsumsi yang umumnya banyak disukai masyarakat.

Senin, 01 Maret 2010

Darah Ikan

Darah merupakan salah satu komponen sistem transport yang sangat vital keberadaannya. Fungsi vital darah di dalam tubuh antara lain sebagai pengangkut zat-zat kimia seperti hormon, pengangkut zat buangan hasil metabolisme tubuh, dan pengangkut oksigen dan karbondioksida. Selain itu, komponen darah seperti trombosit dan plasma darah memiliki peran penting sebagai pertahanan pertama dari serangan penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

Gambaran darah suatu organisme dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan yang sedang dialami oleh organisme tersebut. Penyimpangan fisiologis ikan akan menyebabkan komponen-komponen darah juga mengalami perubahan. Perubahan gambaran darah dan kimia darah, baik secara kualitatif maupun kuantitatif, dapat menentukan kondisi kesehatannya.

Hemoglobin merupakan protein yang terdiri dari protoporfirin, globin dan besi yang bervalensi 2 (ferro). Satu gram hemoglobin dapat mengikat sekitar 1,34 ml oksigen. Kadar hemoglobin yang rendah dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai rendahnya kandungan protein pakan, defisiensi vitamin atau ikan mendapat infeksi. Sedangkan kadar tinggi menunjukkan bahwa ikan sedang berada dalam kondisi stress (Wells, 2005 dalam Kuswardani, 2006).

Hematokrit merupakan persentase volume eritrosit (sel darah merah) dalam darah ikan. Hasil pemeriksaan terhadap hematokrit dapat dijadikan sebagai salah satu patokan untuk menentukan keadaan kesehatan ikan, nilai hematokrit kurang dari 22% menunjukkan terjadinya anemia. Kadar hematokrit ini bervariasi tergantung pada faktor nutrisi, umur ikan, jenis kelamin, ukuran tubuh dan masa pemijahan (Kuswardani, 2006).

Eritrosit (sel darah merah) merupakan sel yang paling banyak jumlahnya. Inti sel eritrosit terletak sentral dengan sitoplasma dan akan terlihat jernih kebiruan dengan pewarnaan Giemsa (Chinabut et al., 1991 dalam Mulyani, 2006). Pada ikan teleost, jumlah normal eritrosit adalah 1,05×106 – 3,0×106 sel/mm3 (Robert, 1978 dalam Mulyani, 2006). Seperti halnya pada hematokrit, kadar eritrosit yang rendah menunjukkan terjadinya anemia. Sedangkan kadar tinggi menandakan bahwa ikan dalam keadaan stress (Wedemeyer dan Yasutake, 1977 dalam Purwanto, 2006).
Leukosit (sel darah putih) mempunyai bentuk lonjong atau bulat, tidak berwarna, dan jumlahnya tiap mm3 darah ikan berkisar 20.000-150.000 butir, serta merupakan unit yang aktif dari sistem pertahanan (imun) tubuh. Sel-sel leukosit akan ditranspor secara khusus ke daerah terinfeksi. Leukosit terdiri dari dua macam sel yaitu sel granulosit (terdiri dari netrofil, eusinofil, dan basofil dan sel agranulosit) dan sel granulosit (terdiri dari limfosit, trombosit, dan monosit) (Purwanto, 2006).

Limfosit memiliki peranan dalam respon imunitas dan monosit merupakan sel makrofag yang berperan penting dalam memfagosit mikroorganisme patogen. Sedangkan trombosit sangat berperan dalam proses pembekuan darah dan berfungsi untuk mencegah kehilangan cairan tubuh pada kerusakan-kerusakan di permukaan (Nabib dan Pasaribu, 1989 dalam Mulyani, 2006). Berbeda dengan ketiga sel di atas, netrofil sangat aktif dalam membunuh bakteri dan jumlahnya besar dalam nanah (Carboni, 1997 dalam Mulyani, 2006). Sel-sel tersebut bersirkulasi dalam darah dan cairan limfa.